Selasa, 09 Oktober 2012

Asuhan Keperawatan Cidera Kepala


ASUHAN KEPERAWATAN
TENTANG
CIDERA KEPALA
                                           
                                               




                                                           OLEH :
 ANNA FITRIA
 ESNI. L
     FITRI WULANDARI
                                                        HENGKY. F


                                  PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS GRESIK
2012




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
          Pada umumnya kematian terjadi setelah segera setelah injury dimana terjadi trauma langsung pada kepala, atau perdarahan yang hebat dan syok. Kematian yang terjadi dalam beberapa jam setelah trauma disebabkan oleh kondisi klien yang memburuk secara progresif akibat perdarahan internal. Pencatatan segera tentang status neurologis dan intervensi surgical merupakan tindakan kritis guna pencegahan kematian pada phase ini. Kematian yang terjadi 3 minggu atau lebih setelah injury disebabkan oleh berbagai kegagalan sistem tubuh.
Faktor-faktor yang diperkirakan memberikan prognosa yang jelek adalah adanya intracranial hematoma, peningkatan usia klien, abnormal respon motorik, menghilangnya gerakan bola mata dan refleks pupil terhadap cahaya, hipotensi yang terjadi secara awal, hipoksemia dan hiperkapnea, peningkatan ICP. Diperkirakan terdapat 3 juta orang di AS mengalami trauma kepala pada setiap tahun. Angka kematian di AS akibat trauma kepala sebanyak 19.3/100.000 orang. Pada umumnya trauma kepala disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas atau terjatuh.



1.2    Tujuan
Adapun Tujuan dari Penyusunan Makalah Asuhan keperawatan pada klien Cidera Kepala adalah:
1.      Tujuan Umum.
a.       Agar perawat khususnya Mahasiswa keperawatan mengetahui cara pemberian Asuhan keperawatan pada klien dengan Cidera kepala.
b.      Menambah wawasan akan bagaimana Prosedur dalam penanganan bagi pasien dengan Cidera Kepala.

2.      Tujuan Khusus.
a.       Memberikan Informasi atau pengetahuan kepada Mahasiswa keperawatan Mengenai Manifestasi klinis serta Komplikasi pada klien Cidera kepala.
       b.      Sebagai Tugas dari Mata Kuliah KMB II

1.3    Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah yang kami paparkan dalam makalah ini yaitu:
1.      Definisi Cedera Kepala?
2.      Etiologi Cedera Kepala?
3.      Patofisiologi Cedera Kepala?
4.      Tanda dan Gejalai Cedera Kepala?
5.     Komplikasi yang Terjadi pada klien Cedera kepala?
6.      Pemeriksaan Penunjang bagi klien Cedera Kepala?
7.   Asuhan keperawatan pada klien Cedera Kepala?


BAB  II
TINJAUAN TEORITIS


2.1  Definisi
 Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.
Cedera kepala pada dasarnya dikenal dua macam mekanisme trauma yang mengenai kepala yakni benturan dan goncangan (Gernardli and Meany, 1996).


2.2  Klasifikasi
       Klasifikasi cidera kepala jika di lihat dari ringan sampai berat, maka dapat kita lihat sebagai berikut:
1.      Cedera kepala ringan ( CKR )
Ø  GCS 13 – 15
Ø  Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit tetapi ada yang menyebut kurang dari 2 jam, jika ada penyerta seperti fraktur tengkorak, kontusio atau tematom (sekitar 55%)
Ø  Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur serebral, hematoma.

2.      Cidera kepala sedang ( CKS )
Ø  GCS  9 – 12
Ø  Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang  dari 24 Jam
Ø  Dapat mengalami fraktur tengkorak, disorientasi ringan (bingung)
3.      Cidera kepala berat ( CKB )
Ø  GCS  3 – 8
Ø  Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 Jam
Ø  Juga meliputi konstusio serebral, laserasi, atau hematoma intrekranial atau edema.
 Selain itu ada istilah- istilah lain untuk untuk jenis cedera kepala sebagai berikut :
·      Cedera kepal terbuka kulit mengalami laserasi sampai pada merusak tulang tengkorak.
·      Cidera kepala tertutup dapat disamakan gagar otak ringan dengan edema cerebral.
2.3  Etiologi
       Adapun penyebab dari cidera kepala karena :
*      Kecelakaan lalulintas
*      Kecelakaan olahraga
*      Penganiayaan
*      Tertembak
*      Jatuh
*      Cedera akibat kecelakaan
       Hampir semua cedera otak traumatik disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas,akibat peristiwa yang berhubungan dengan aktivitas olehraga, dan akibat tindakankekerasan. Penyebab yang paling sering dari cedera kepala tertutup adalah kecelakaanlalu lintas, dimana hal ini meliputi cedera yang terjadi pada penumpang kendaraan bermotor, pejalan kaki, pengendara motor, dan pengendara sepeda. Penyebab yanglainnya adalah akibat terjatuh. Cedera akibat luka tembak merupakan penyebab utamadari cedera kepala penetrasi di Amerika Serikat dan terhitung sebanyak 44% darisemua kasus cedera kepala. Dewasa muda merupakan orang yang paling seringterlibat dalam kecelakaan lalu lintas (umur 5-64 tahun), tetapi populasi ini memilikisedikit insiden dari lesi massa intrakranial. Sedangkan pasien berumur tua (65 tahunatau lebih) paling sering mengalami cedera akibat terjatuh dan memiliki insiden yangtinggi dari lesi massa intrakranial. Intoksikasi alkohol dan obat-obatan lainnyamerupakan faktor yang signifikan sebagai penyebab cedera dan tersebar hampir sama pada semua kelompok umur, kecuali pada umur sangat muda dan sangat tua
      
2.4  Patofisiologi
       Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau terkena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentuk objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala secara tiba-tiba tanpa kontak langsung. Seperti yang terjadi bila posisi badan yang di ubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa di kombinasi dengan pengubahan posisi rotasi yang menyebabkan truma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak.
Cedera primer yang terjadi pada waktu  benturan, mugkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral di kurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulakan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat  menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.
Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal di akibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusi  serebral dah hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang di akibatkan oleh perluasan masa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar di kaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak.

2.5  Tanda dan Gejala
*      Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
*      Kebingungan
*      Iritabel
*      Pucat
*      Mual dan muntah
*      Pusing kepala
*      Terdapat hematoma
*      Kecemasan
*      Sukar untuk di bangunkan
*      Bila fraktur, mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung(rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal



2.6  Komplikasi
*      Hemorrhagie
*      Infeksi
*      Edema
*      Herniasi

2.7  Pemeriksaan Penunjang
*      Laboratorium: darah lengkap (hemoglobin, leukosit, CT, BT)
*      Foto rontgen kepala/lateral kanan dan kiri untuk mengetahui adanya fraktur tulang tengkorak
*      Foto rontgen cervikal untuk mengetahui adanya fraktur pada tulang leher
*      CT scan otak untuk mengetahui adannya perdarahan pada otak
*      EEG untuk merekam aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh


2.8  Penatalaksanaan
        Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:
*      Observasi 24 jam
*      Jika pasien masih muntah sementara di puasakan terlebih dahulu
*      Berikan terapi intravena bila ada indikasi
*      Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi
*      Pemberian obat-obat analgetik
*      Pembedahan bila ada indikasi
Penatalaksanaan pada pasien cidera kepala juga dapat di lakukan dengan cara
a)      Pada semua pasien dengan cedera kepala / leher, lakukan foto tulang belakang servikal kolar servikal baru di lepas setelah di pastikan bahwa seluruh tulang servikal C1-C7 normal
b)      Pada semua pasien dengan cedera kepala sedang berat, lakukan prosedur berikut: pasang infus dengan larutan normal salin (Nacl 0,9 %) / Larutan Ringer RL dan larutan ini tidak menambah edema cerebri
c)      Lakukan C1 Scan, pasien dengan cedera kepala ringan, sedang dan berat harus di evaluasi adannya:
*      Hematoma epidural
*      Darah dalam subaraknoid dan infra ventrikel
*      Kontusio dan perdarahan jaringan otak
*      Edema cerebri
*      Obliteri sisterna perimensefalik
d)     Pada pasien yang koma
*      Elevasi kepala 30 derajat
*      Hiperventilasi: intubasi dan berikan ventilasi mendotorik intermitten dengan kecepatan 16-20 kali/menit dengan volume tidal 10-12 ml/kg
*      Berikan manitol 20% 19/kg intravena dalam 20-30 menit
*      Pasang kateter foley
*      Konsul bedah syaraf bila terdapat indikasi operasi



BAB  III
ASUHAN  KEPERAWATAN

3.1   Pengkajian
1.      Identitas pasien
Nama                    :                         Alamat                           :
Umur                    :                         Diagnosa medik             :
Pendidikan           :                         Tanggal masuk               :
Pekerjaan             :                         Tanggal pengkajian        :

2.      Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikansegera setelah kejadian
3.      Data fisik
a.       Aktifitas atau istrahat
*      Adanya kelemahan atau kelelahan, kaku, hilang keseimbangan
*      Kesadaran menurun, kelemahan otot/spasma
b.      Peredaran darah/sirkulasi
*      Tekanan darah normal/berubah (hypertensi), denyut nadi: (bradikardi, tachikardi, dysritmia)
c.       Eliminasi
*      Verbal tidak dapat menahan BAK dan BAB
*      Blader dan bowel Incontinentia
d.      Makanan atau cairan
*      Mual dan muntah
*      Muntah yang memancar/proyektil, masalah kesukaran menelan

e.       Persyarafan/Neurosensori
*      Pusing, kehilangan kesadaransementara,amnesia seputar kejadian
*      Perubahan pada pengelihatan
*      Gangguan pengecapan dan juga penciuman
*      Kesadaran menurun bisa sampai coma, perubahan status mental
f.       Kenyamanan atau nyeri
*      Nyeri kepala yang bervariasi tekanan dan lokasi nyerinya, agak lama
*      Wajah mengerut, respon menarik dari pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah
g.      Pernapasan
*      Perubahan pola napas, stridor, ronchi
h.      Pengkajian keamanan
*      Ada riwayat kecelakaan
*      Terdapat trauma/fraktur/distorsi, perubahan pengelihatan, kulit
*      Ketidaktahuan tentang tentang keadaannya, kelemahan otot-otot, paradise, demam
i.        Konsep diri
*      Adanya perubahan tingkah laku (tenang/dramatis)
*      Kecemasan, berdebar, bingung, dellirium
j.        Interaksi sosial
*      Afasia motorik/sensorik, bicara tanpa arti,bicara berulang-ulang




3.2    Diagnosa keperawatan
1.      Nyeri b/d trauma kepala
Tujuan : klien akan merasa nyaman Dg k/h klien tidak mengeluh nyeri, & TTV dalam batas normal
              Intervensi
                Rasional
ü  Kaji keluhan nyeri dg menggunakan skala nyeri
ü  Mengatur posisi sesuai kebutuhan klien untuk mengurangi nyeri
ü  Kurangi rangsangan
ü  Pemberian obat analgetik sesuai dengan program
ü  Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur
ü  Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi

ü  Mengkaji skala nyeri untuk mengetahui seberapa nyeri yg di alami klien
ü  Posisi yg sesuai akan mengurangi nyeri pd klien
ü  Rangsangan akan dpt membuat nyeri lebih terasa
ü  Obat anelgetik dibuat untuk mengurangi rasa nyeri
ü  Lingkungan yg nyaman akan membuat klien terasa lebih nyaman
ü  Sentuhan terapeutik dapat mengurangi rasa nyeri

2.      Resiko tidak efektifnya jalan napas & tidak efektifnya pola nafas b/d gagal nafas, adannya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan : pola napas dan bersihan jalan napas efektif Dg k/h tidak ada sesak atau kesukaran bernapas, jalan napas bersih, dan pernapasan dalam batas normal.









               Intervensi
                 Rasional
ü  Kaji Airway, Breathing, Circulasi
ü  Kaji klien, apakah ada fraktur servikal & vertebra. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi & hati2 dlm mengatur posisibila ada cedera vertebra
ü  Pastikan jalan napas tetap terbuka & kaji adanya sekret. Bila ada sekret  segera lakukan pengisapan lendir
ü  Kaji status pernapasan kedalamannya, usaha dlm bernapas
ü  Bila tdk ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15-30 derajad
ü  Pemberian oksigen sesuai program
ü  Untuk mengetahui pernapasan klien
ü  Posisi yg dalah pada pasien fraktur akan membuat klien tdk nyaman & sedikit kesulitan dlm bernapas
ü  Pengisapan lendir di lakukan untuk mempermudah jalan napas
ü  Status pernapasan di kaji untuk mengetahui pola napas klien
ü  Posisi dg kpla sdikit ekstensi akan membuat klien bernapas dgn baik
ü  Pemberian oksigen u/ memenuhi kebutuhan oksigen klien

3.      Resiko kurangnya volume cairan b/d mual dan muntah
Tujuan : tidak di temukan tanda-tanda kekurangan volume cairan atau dehidrasi yang dg k/h membran mukosa lembab, integritas kulit baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal
                  Intervensi
                Rasional
ü  Kaji intake dan out put
ü  Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, dan ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine
ü  Berikan klien banyak minum
ü  Berikan cairan intra vena sesuai program
ü   Untuk mengetahui intake & out put  cairan klien
ü  Mengetahui tanda-tanda jika klien mengalami dehidrasi
ü  Banyak minum untuk mengganti cairan yang hilang
ü  Untuk mengetahui cairan klien



4.      Perubahan perfusi jaringan serebral b/d edema serebral & peningkatan intrakranial
Tujuan: perfusi jaringan serebral adekuat dg k/h tidak ada pusing hebat, kesadaran tdk menurun, & tidak terdapat tanda2 peningkatan tekanan intrakranial
                 Intervensi
                    Rasional
ü  Tinggikan posisi kpala 15-30 derajat dengan posisi “midline
ü  Hindari hal-hal yg dapat menyebabkan terjadinya peningkatan TIK
ü  Pembalikan posisi dr samping ke samping
ü  Bila akan memiringkanklien, hrus menghindari adanya tekukan pd anggota bdan, fleksi
ü  Berikan pelembek tinja
ü  Ciptakan lingkungan yg tenang
ü  Pemberian obat2an sesuai program
ü  Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untk mencegah aspirasi dan pemenuhan nutrisi
ü  Untuk menurunkan tekanan vena jugularis
ü  Peningkatan TIK dpt merubah perfusi jaringan serebral
ü  Perub. Posisi akan memberi rasa klien lebih nyaman
ü  Tekukan di hindari agar tidak terjadi rasa nyeri pd klien
ü  Pelembek tinja untuk mencegah adanya valsavamaneuver
ü  Lingkungan yg nyaman akan memberi rasa lebih nyaman pd klien
ü  Obat2an u/ mengurangi edema/ TIK sesuai program
ü  Pemasangan NGT u/ mencegah trjadinnya aspirasi dan memenuhi kebutuhan nutrisi klien

5.      Kurangnya perawatan diri b/d tirah baring dan menurunnya kesadaran
Tujuan : kebutuhan sehari-hari klien terpenuhi dg k/h BB stabil, tmpat tdr bersih, tubuh klien bersih, tidak ada iritasi pd kulit, BABBAK dpt di bantu






                      Intervensi
                    Rasional    
ü  Bantu klien dlm memenuhi kbutuhan sehari-hari
ü  Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi.
ü  Perawatan kateter bila terpasang
ü  Kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudhkan BAB
ü  Libatkan keluarga dlm perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
ü  Untuk memenuhi kebutuhan sehari2 klien
ü  Makanan via parenteral u/ memenuhi nutrisi klien
ü  Kateter yang bersih akan membuat klien lebih nyaman
ü  Agar kebutuhan sehari2 klien terpenuhi

3.3    Evaluasi
Evaluasi di lakukan berdasarkan pengkajian, diagnosa keperawatan dan intervensi



BAB IV
SIMPULAN & SARAN

4.1 Kesimpulan
               Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

4.2  Saran

Guna sempurnanya makalah kami ini,kami sangat mengaharapkan kritik dan saran dari Rekan-rekan kelompok lain serta dari Dosen Pembimbing.






DAFTAR PUSTAKA

Smaltzer, suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC, jakarta
Arif, Mansjoer, dkk, 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculpius, jakarta
Brunner & Suddart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan vol 3. EGC, jakarta
Doengoes, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC, jakarta







0 komentar:

Poskan Komentar